Connect with us

Hukum & Kriminal

Kabar Saksi Dimintai Uang Oknum Tertentu, Dibantah Kasubag Keuangan BPPKAD Gresik

Diterbitkan

||

Kabar Saksi Dimintai Uang Oknum Tertentu, Dibantah Kasubag Keuangan BPPKAD Gresik

Memontum Gresik – Kabar soal adanya sejumlah saksi kasus dana insentif BPPKAD dengan terdakwa Mukhtar yang diduga dimintai uang oleh oknum tertentu ditepis oleh salah satu saksi Heni Puspitasari Kasubag Keuangan BPPKAD Pemkab Gresik. Saat ia dipancing agar mengeluarkan uang agar dirinya tidak lagi diperiksa ia menolaknya.

“Uang apa mas, kemarin uang sudah tak bayarkan untuk berangkat haji. Hutang saya banyak mas. Cicilan saya banyak,” ujar Heni saat dipancing soal kabar beredarnya uang mengalir ke oknum tertentu yang saat ini jadi perbincangan sejumlah PNS dilingkungan Pemkab Gresik, Senin (4/11/2019).

Bahkan Heni, juga enggan menjawab pertanyaan wartawan saat ia diperiksa sebagai saksi dengan terdakwa Mukhtar apakah pernah mengeluarkan uang untuk oknum tertentu ?. Mantan Sekpri Sekda M Najib yang kini telah pensiun itu hanya tersenyum. “Gak ada mas. Aku sudah tidak punya uang. Biarkan saja, aku no coment,” imbuhnya.

Heni mengaku, ia sudah diperiksa empat kali dalam kasus yang kini menjerat Sekda Gresik Andhy Hendro Wajaya. Dan selama ia diperiksa ia belum pernah mengeluarkan uang kepada siapapun terkait dengan dirinya yang sampai hari ini masih menjadi saksi. “Jaman Pak Mukhtar saya diperiksa tiga kali. Jaman Pak Andhy satu kali. Dan belum pernah mengeluarkan uang ke siapapun,” tandasnya.

Heni juga mengaku sudah mendapat kabar dari penyidik bahwa pemeriksaanya beberapa waktu yang lalu adalah yang terakhir setelah Andhy telah dijadikan tersangka. “Katanya pemeriksaan kemarin terakhir. Semoga tidak ada lagi panggilan dari kejaksaan,” ujarnya.

Sementara itu sidang praperadilan Sekda Gresik, Andhy Hendro Wijaya kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Gresik, Jalan Permata, Senin (4/11/2019).

Agenda sidang kali ini adalah penyampaian materi jawaban dari termohon, Kejari Gresik. Sidang ini dipimpin Hakim Tunggal Rina Indrajanti, S.H., serta kuasa hukum Sekda Andhy Hendro, yakni Hariyadi, S.H. dan Toufan Rezza, S.H.

Turut hadir dari pihak termohon, yakni Kasi Pidsus Dymas Adji Wibowo, Alifin Nur Wanda, Agung Ngura, dan Esti Harjanti Chandrarini.

Jawaban praperadilan dan eksepsi (keberatan) Kejari dibacakan oleh Jaksa Alifin N Wanda. Ia menyatakan, bahwa penyidik Kejari Gresik dalam menetapkan Sekda Gresik Andhy Hendro Wijaya sebagai tersangka sudah sesuai KUHAP berdasarkan alat bukti cukup. Adapun barang bukti itu berupa saksi yang dimintai keterangan penyidik, maupun bukti uang yang disita, serta bukti transferan yang didapatkan penyidik. (sgg/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Sehari Semalam Tidak Pulang, Dua Pelajar Tewas Tenggelam

Diterbitkan

||

SEDIH : Sejumlah keluarga bersedih melihat kedua korban berbujur kaku sesaat setelah dievakuasi.
SEDIH : Sejumlah keluarga bersedih melihat kedua korban berbujur kaku sesaat setelah dievakuasi.

Memontum Gresik – Naas dua pelajar asal Dusun Ngajaran Desa Karangbinangun Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan ditemukan tewas mengapung di Bendung Gerak Sembayat (BGS) Desa Sidomukti, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Senin (28/9).

Diketahui dua pelajar na’as tersebut adalah Alfian (15) dan Andre (15) yang sebelumnya meninggalkan rumah pada Minggu (27/09) sekitar pukul 09:00 dengan mengendarai motor honda beat, pada akirnya diketemukan tidak bernyawa.

Kepala Desa Karangbinangun, Sugianto menjelaskan, kedua korban keluar dari rumah pada hari Minggu (27/8) sekitar pukul 09.00 WIB. Kemudian, pihak keluarga bersama pemdes mencari keberadaan korban. “Mereka membawa sepeda motor Honda Beat. Pihak keluarga tidak mengetahui mereka berdua keluar kemana,” ucapnya usai mengevakuasi pelajar asal Lamongan yang ditemukan dalam kondisi mengapung di BGS Gresik.

Informasi itu kemudian menyebar ke warga yang lain. Pada saat itu pula, pihak kepolisian bersama TNI ke lokasi kejadian dan mengevakuasi korban. “Saat mendengar info itu langsung ke lokasi, saat ditemukan dua korban sudah tidak bernyawa lagi,” kata Aipda Dwi Rahmanto Kanitreskrim Polsek Bungah,” Senin (28/9).

Aipda Dwi menerangkan, dari informasi yang ada, kedua korban hilang sejak kemarin pagi. “Ini nanti divisum. Kemudian nanti kita baru bisa menyimpulkan. Kami juga akan melakukan cek CCTV kantor di BGS,” pungkasnya. (sgg/syn)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dicurigai Ganggu Istri, Warga Surabaya Tewas Dihajar Suami

Diterbitkan

||

oleh

Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto saat jumpa pers bersama awak media di Halaman Mapolres Gresik
Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto saat jumpa pers bersama awak media di Halaman Mapolres Gresik

Memontum Gresik – Diduga dibakar api cemburu pria paruhbaya berinisial Y (35) menghajar Hadi Kirana Putra (29) hingga tewas. Saat ditemukan korban tergeletak di jembatan Prambangan, Kebomas, Gresik, Minggu (7/6/2020) malam kemarin.

Korban yang beralamatkan di Greges Barat VI, Nomor 20 RT 004 RW 001, Tambak Sarioso, Kecamatan Asemrowo, Surabaya, sempat dilarikan ke RSUD Ibnu Sina Gresik, namun karena lukanya cukup parah akhirnya meninggal dunia.

“Korban sempat terjatuh ke aspal. Kemudian ada pendarahan di kepalanya. Sempat dibawa ke rumah sakit, namun akhirnya meninggal dunia,” jelas Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto, Selasa (9/8/2020).

Lebih lanjut Arief membeberkan bahwa motif pembunuhan ini dipicu karena pelaku menduga korban memiliki hubungan asmara dengan istri siri pelaku. Hal itu diketahui setelah pelaku menemukan riwayat komunikasi antara istrinya dengan korban di handphone milik istri sirih pelaku.

“Setelah itu dengan menggunakan handphone istrinya, pelaku memancing korban untuk bertemu. Setelah bertemu, pelaku langsung menganiaya korban menggunakan tangan kosong. Dari pengakuan pelaku tindakannya tersebut dilakukan secara spontan karena tidak bisa mengendalikan emosinya,” terang alumni AKPOL 2001 itu.

Meski tidak ditemukan identitas korban di lokasi kejadian, namun berkat kerja keras pihak kepolisian pelaku akhirnya berhasil dibekuk di rumah kontrakannya di Perum GKB, Jalan Kapuas RT 08, RW 02, Kecamatan Manyar, Gresik, kurang dari 10 jam setelah penemuan korban.

Pijakan awal polisi dalam mengungkap kasus ini berawal dari sepeda motor Honda CS1 bernopol L 5940 CD yang diduga milik korban yang tertinggal di lokasi kejadian.

“Tersangka dijerat dengan pasal 338 subsider pasal 351 ayat 3 KUHP,” ucap pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Ponorogo tersebut.

Sementara dalam kasus ini polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 3 buah handphone, 1 sepeda motor Honda CS1 milik korban, 1 sepeda motor Honda Vario milik pelaku, 1 celana panjang warna abu-abu, 1 kaos warna abu-abu dan 1 tas warna biru. (sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dituding Terlibat Pencabulan, Anggota DPRD Gresik Berikan Klarifikasi

Diterbitkan

||

oleh

Anggota DPRD Gresik Nur Hudi didampingi Tim Advokasi DPD Nasdem Irfan Choiri saat memberikan statemen klarifikasi kepada awak media
Anggota DPRD Gresik Nur Hudi didampingi Tim Advokasi DPD Nasdem Irfan Choiri saat memberikan statemen klarifikasi kepada awak media

Memontum Gresik – Tak terima dituding ikut campur dalam kasus pencabulan yang kini ditangani oleh Unit PPA Satreskrim Polres Gresik, seorang anggota DPRD Gresik dari partai Nasional Demokrasi (Nasdem) Nur Hudi akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi di hadapan awak media melalui Badan Hukum (Bahu) Nasdem Irfan Choiri, pada Kamis (14/5/2020).

“Saudara saya Nur Hudi ini tidak pernah atau berniat menyuap kepada korban. Hanya ingin kasus itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Karena sudah mengandung, sehingga keterlibatan Nur Hudi hanya sebatas membantu agar mereka bisa duduk bersama. Karena menyangkut bayi yang sedang dikandung,” kata Irfan Choiri Bahu Nasren Gresik.

Irfan menegaskan kembali, bahwa kasus persetubuhan dibawah umur ini hingga hari ini polisi juga belum menetapkan siapa telah sangkanya. Pihaknya meminta agar penyidik bekerja keras untuk mengungkap kasus yang kemungkinan menurutnya bisa jadi pelakunya bukan hanya satu.

“Dalam kasus yang sama seperti ini biasanya pelakunya tidak hanya satu. Dan kita mendesak agar Polisi segera memproses kasus ini secara transparan,” tegasnya.

Sementara itu, Nur Hudi sendiri mengaku tidak tahu menahu soal awal mulanya cerita kasus ini. Ia hanya tergerak karena melibatkan masyarakat dilingkunganya maka dia hanya berihtiar untuk membantu menyelesaikan masalah agar tidak berlarut larut.

“Tidak ada menyuapan atau apa namanya. Karena pada dasarnya yang disuap siapa. Karena ini adalah aib sehingga kami ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan agar masalah aib ini tidak tersebar kemana mana. Kalau sudah seperti ini ya sudah ambyar semua. Semua dibuat malu. Karena ini memang aib,” ucap Nur Hudi.

Diketahui, kasus pencabulan yang menyeret nama seorang anggota dewan Gresik ini terjadi di wilayah Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Dengan pelaku bernama SG (50) yang tega menggagahi MD (16) di kandang ayam.

Akibat perbuatan bejat tersebut, kini korban sudah hamil 7 bulan. Lebih mirisnya lagi, pelaku tega menghamili korban ternyata masih pamannya sendiri. Korban yang masih duduk di bangku SMP ini mengaku dicabuli sejak Maret 2019.

“Kami akan memeriksa terlapor. Kalau alat buktinya sudah terkumpul maka tidak menutup kemungkinan status terlapor akan kami tingkatkan sebagai tersangka,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Gresik Ipda Djoko Supriyanto saat dikonfirmasi wartawan. (sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler