Connect with us

Hukum & Kriminal

Dituding Terlibat Pencabulan, Anggota DPRD Gresik Berikan Klarifikasi

Diterbitkan

||

Anggota DPRD Gresik Nur Hudi didampingi Tim Advokasi DPD Nasdem Irfan Choiri saat memberikan statemen klarifikasi kepada awak media
Anggota DPRD Gresik Nur Hudi didampingi Tim Advokasi DPD Nasdem Irfan Choiri saat memberikan statemen klarifikasi kepada awak media

Memontum Gresik – Tak terima dituding ikut campur dalam kasus pencabulan yang kini ditangani oleh Unit PPA Satreskrim Polres Gresik, seorang anggota DPRD Gresik dari partai Nasional Demokrasi (Nasdem) Nur Hudi akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi di hadapan awak media melalui Badan Hukum (Bahu) Nasdem Irfan Choiri, pada Kamis (14/5/2020).

“Saudara saya Nur Hudi ini tidak pernah atau berniat menyuap kepada korban. Hanya ingin kasus itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Karena sudah mengandung, sehingga keterlibatan Nur Hudi hanya sebatas membantu agar mereka bisa duduk bersama. Karena menyangkut bayi yang sedang dikandung,” kata Irfan Choiri Bahu Nasren Gresik.

Irfan menegaskan kembali, bahwa kasus persetubuhan dibawah umur ini hingga hari ini polisi juga belum menetapkan siapa telah sangkanya. Pihaknya meminta agar penyidik bekerja keras untuk mengungkap kasus yang kemungkinan menurutnya bisa jadi pelakunya bukan hanya satu.

“Dalam kasus yang sama seperti ini biasanya pelakunya tidak hanya satu. Dan kita mendesak agar Polisi segera memproses kasus ini secara transparan,” tegasnya.

Sementara itu, Nur Hudi sendiri mengaku tidak tahu menahu soal awal mulanya cerita kasus ini. Ia hanya tergerak karena melibatkan masyarakat dilingkunganya maka dia hanya berihtiar untuk membantu menyelesaikan masalah agar tidak berlarut larut.

“Tidak ada menyuapan atau apa namanya. Karena pada dasarnya yang disuap siapa. Karena ini adalah aib sehingga kami ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan agar masalah aib ini tidak tersebar kemana mana. Kalau sudah seperti ini ya sudah ambyar semua. Semua dibuat malu. Karena ini memang aib,” ucap Nur Hudi.

Diketahui, kasus pencabulan yang menyeret nama seorang anggota dewan Gresik ini terjadi di wilayah Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Dengan pelaku bernama SG (50) yang tega menggagahi MD (16) di kandang ayam.

Akibat perbuatan bejat tersebut, kini korban sudah hamil 7 bulan. Lebih mirisnya lagi, pelaku tega menghamili korban ternyata masih pamannya sendiri. Korban yang masih duduk di bangku SMP ini mengaku dicabuli sejak Maret 2019.

“Kami akan memeriksa terlapor. Kalau alat buktinya sudah terkumpul maka tidak menutup kemungkinan status terlapor akan kami tingkatkan sebagai tersangka,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Gresik Ipda Djoko Supriyanto saat dikonfirmasi wartawan. (sgg/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Sehari Semalam Tidak Pulang, Dua Pelajar Tewas Tenggelam

Diterbitkan

||

SEDIH : Sejumlah keluarga bersedih melihat kedua korban berbujur kaku sesaat setelah dievakuasi.
SEDIH : Sejumlah keluarga bersedih melihat kedua korban berbujur kaku sesaat setelah dievakuasi.

Memontum Gresik – Naas dua pelajar asal Dusun Ngajaran Desa Karangbinangun Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan ditemukan tewas mengapung di Bendung Gerak Sembayat (BGS) Desa Sidomukti, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Senin (28/9).

Diketahui dua pelajar na’as tersebut adalah Alfian (15) dan Andre (15) yang sebelumnya meninggalkan rumah pada Minggu (27/09) sekitar pukul 09:00 dengan mengendarai motor honda beat, pada akirnya diketemukan tidak bernyawa.

Kepala Desa Karangbinangun, Sugianto menjelaskan, kedua korban keluar dari rumah pada hari Minggu (27/8) sekitar pukul 09.00 WIB. Kemudian, pihak keluarga bersama pemdes mencari keberadaan korban. “Mereka membawa sepeda motor Honda Beat. Pihak keluarga tidak mengetahui mereka berdua keluar kemana,” ucapnya usai mengevakuasi pelajar asal Lamongan yang ditemukan dalam kondisi mengapung di BGS Gresik.

Informasi itu kemudian menyebar ke warga yang lain. Pada saat itu pula, pihak kepolisian bersama TNI ke lokasi kejadian dan mengevakuasi korban. “Saat mendengar info itu langsung ke lokasi, saat ditemukan dua korban sudah tidak bernyawa lagi,” kata Aipda Dwi Rahmanto Kanitreskrim Polsek Bungah,” Senin (28/9).

Aipda Dwi menerangkan, dari informasi yang ada, kedua korban hilang sejak kemarin pagi. “Ini nanti divisum. Kemudian nanti kita baru bisa menyimpulkan. Kami juga akan melakukan cek CCTV kantor di BGS,” pungkasnya. (sgg/syn)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dicurigai Ganggu Istri, Warga Surabaya Tewas Dihajar Suami

Diterbitkan

||

oleh

Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto saat jumpa pers bersama awak media di Halaman Mapolres Gresik
Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto saat jumpa pers bersama awak media di Halaman Mapolres Gresik

Memontum Gresik – Diduga dibakar api cemburu pria paruhbaya berinisial Y (35) menghajar Hadi Kirana Putra (29) hingga tewas. Saat ditemukan korban tergeletak di jembatan Prambangan, Kebomas, Gresik, Minggu (7/6/2020) malam kemarin.

Korban yang beralamatkan di Greges Barat VI, Nomor 20 RT 004 RW 001, Tambak Sarioso, Kecamatan Asemrowo, Surabaya, sempat dilarikan ke RSUD Ibnu Sina Gresik, namun karena lukanya cukup parah akhirnya meninggal dunia.

“Korban sempat terjatuh ke aspal. Kemudian ada pendarahan di kepalanya. Sempat dibawa ke rumah sakit, namun akhirnya meninggal dunia,” jelas Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto, Selasa (9/8/2020).

Lebih lanjut Arief membeberkan bahwa motif pembunuhan ini dipicu karena pelaku menduga korban memiliki hubungan asmara dengan istri siri pelaku. Hal itu diketahui setelah pelaku menemukan riwayat komunikasi antara istrinya dengan korban di handphone milik istri sirih pelaku.

“Setelah itu dengan menggunakan handphone istrinya, pelaku memancing korban untuk bertemu. Setelah bertemu, pelaku langsung menganiaya korban menggunakan tangan kosong. Dari pengakuan pelaku tindakannya tersebut dilakukan secara spontan karena tidak bisa mengendalikan emosinya,” terang alumni AKPOL 2001 itu.

Meski tidak ditemukan identitas korban di lokasi kejadian, namun berkat kerja keras pihak kepolisian pelaku akhirnya berhasil dibekuk di rumah kontrakannya di Perum GKB, Jalan Kapuas RT 08, RW 02, Kecamatan Manyar, Gresik, kurang dari 10 jam setelah penemuan korban.

Pijakan awal polisi dalam mengungkap kasus ini berawal dari sepeda motor Honda CS1 bernopol L 5940 CD yang diduga milik korban yang tertinggal di lokasi kejadian.

“Tersangka dijerat dengan pasal 338 subsider pasal 351 ayat 3 KUHP,” ucap pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Ponorogo tersebut.

Sementara dalam kasus ini polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 3 buah handphone, 1 sepeda motor Honda CS1 milik korban, 1 sepeda motor Honda Vario milik pelaku, 1 celana panjang warna abu-abu, 1 kaos warna abu-abu dan 1 tas warna biru. (sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Tak Terbukti Korupsi, Hakim Bebaskan Sekda Gresik

Diterbitkan

||

oleh

Sekda Gresik Andhy Hendro Wijaya
Sekda Gresik Andhy Hendro Wijaya

Memontum Gresik – Karena tak terbukti, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Andhy Hendro Wijaya akhirnya bisa bernafas lega setelah diputus bebas oleh Majelis Hakim PN Tipikor Surabaya dalam sidang lanjutan kasus perkara korupsi insentif pajak pegawai BPPKAD Gresik, di PN Tipikor Surabaya, Senin (30/3/2020).

Ketua Majelis Hakim, I Wayan Sosiawan memutus Andhy Hendro Wijaya bebas karena tak terbukti melakukan korupsi, tidak menikmati uang potongan insentif pajak di BPPKAD. Selain itu, dalam proses pemotongan insentif tersebut juga terbukti tak ada paksaan.

Sejak putusan bebas, Majelis Hakim menyatakan status tahanan kota Andhy Hendro Wijaya dicabut.

Sementara kuasa hukum Andhy Hendro Wijaya, Hariyadi, S.H., mengaku bersyukur atas putusan bebas kliennya. “Sejak awal sidang saya yakin klien saya akan bebas, sebab tak terbukti bersalah,” ujar Hariyadi, Senin (30/3/2020).

Menurut Hariyadi, Majelis Hakim sependapat dengan pledoi yang diajukannya.

“Klien saya tak terbukti melanggar dakwaan kedua, yakni Pasal 12 huruf f Jis, Pasal 18 ayat (1) huruf b UU RI Nomor 31 tahun 1999,tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana dirubah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 1999, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jis, Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jis, Pasal 64 ayat (1) KUHP seperti yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Gresik. Bahwa pasal 12 huruf f yang dibuktikan oleh jaksa itu mengada-ngada dan tidak memiliki dasar hukum. Alasannya, pada perkara ini, faktanya potongan jasa insentif dari BPPKAD itu berlansung lama dan tidak ada paksaan,” jelas Hariyadi.

“Semua pegawai BPPKAD ketika dipotong per triwulan sekali untuk kebutuhan internal kantor tidak ada unsur paksaan. Mereka sukarela dipotong dan itu sudah berjalan lama sejak BPPKAD dipegang oleh Bu Yetty (Yetty Sri Suparyati). Jadi, unsur korupsi dan paksaan itu tak terbukti,” terang Hariyadi.

Hariyadi juga mengungungkapkan, bahwa pasal 12 f UU korupsi yang diterapkan untuk terdakwa tidak tepat. “Tidak ada fakta hukum yang diperoleh dalam persidangan. Sebab, potongan jasa insentif itu berlangsung bertahun-tahun dan diserahkan secara sukarela dan tidak ada paksaan,” paparnya.

“Karena itu, Majelis Hakim membebaskan klien kami dari segala tuntutan jaksa,” terangnya.

Dalam waktu dekat ini, Hariyadi mengaku akan segera mengirim surat kepada Bupati Sambari Halim Radianto untuk mencabut status nonaktif jabatan Sekda AHW. “Kami juga meminta nama baik AHW (Andhy Hendro Wijaya, Red) dikembalikan,” pungkasnya. (sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler